Budaya Makan Suku Jawa yang Perlu Diketahui

Budaya makan suku Jawa memang menyita perhatian para peneliti etnografi. Hal ini dikarenakan polanya dianggap sangat unik dan berbeda dengan yang lainnya. Selain itu, suku jawa juga mengedepankan kebersamaan dan persatuan sehingga menjadi topic yang tidak ada habisnya untuk dibicarakan.

5 Budaya Makan Suku Jawa

Makanan adalah sesuatu yang amat penting bagi berlangsungnya kehidupan. Tanpanya, orang tidak bisa hidup dan beraktivitas sehari-hari. Keberadaannya sering dianggap wajar, namun ternyata menyimpan sesuatu ilmu pengetahuan yang baru dan bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.

Budaya Makan Suku Jawa

Salah satunya berbicara tentang Suku jawa, suku terbesar di Indonesia dengan tradisi beraneka ragam, termasuk makan. Berikut ini penjelasan budaya makan Suku Jawa mulai dari makanan pokok, lauk pauk dan lain sebagainya.

  1. Makanan Pokok

Makanan pokok bagi Suku Jawa adalah yang mengandung karbohidrat karena sifatnya yang mengenyangkan, menambah tenaga dan menguatkan. Makanan pokok bagi Suku jawa adalah yang terbuat dari padi, ketela dan jagung.

Selain itu, mereka tidak menganggapnya sebagai makanan pokok, namun pendukung, tambahan atau cemilan. Cara memasaknya berbeda-beda antar tiap daerah. Contohnya adalah nasi kuning, nasi gurih dan masih banyak lagi yang lainnya.

Jadi roti seperti yang dikonsumsi masyarakat perkotaan untuk sarapan, bagi Suku Jawa bukanlah sebuah makanan karena tidak mengandung ketiga bahan di atas dan tidak mengenyangkan. Sampai sini bisa dipahami kan?

  1. Lauk Pauk

Lauk pauk yang dimaksud disini adalah makanan hasil proses pengolahan dari suatu bahan makanan yang biasanya didapat dari pertanian, peternakan, perikanan dan perkebunan. Lauk pauk ini dimasak dengan cara yang kompleks dan dipadukan dengan rempah-rempah.

Bagi Suku Jawa, lauk pauk dibagi menjadi tiga yaitu nabati, hewani dan buah-buahan. Contoh dari nabati adalah sayuran yang diolah menjadi masakan seperti lodeh kacang panjang, sayur gurih labu dan oseng-oseng pare.

Sedangkan hewani adalah yang diolah dari hasil peternakan dan perikanan, untuk bisa mendapatkannya, seseorang harus pergi ke pasar terlebih dahulu. Contoh lauk pauk hewani adalah ayam goreng, semur daging, lapis daging sapi dan lain-lain.

Buah-buahan yaitu berasal dari hasil tanaman perkebunan baik yang dikomersilkan dalam skala kecil maupun besar. Contohnya adalah alpukat, mangga, apel dan lain sebagainya.

  1. Makanan Selingan

Dalam budaya makan Suku Jawa dikenal dengan nama makanan selingan yang diolah dan berfungsi sebagai pelengkap makanan pokok. Masyarakat jawa Tengah sering menyebutnya sebagai “ncamik’an” atau “camilan”.

Makanan selingan ini biasanya disajikan antara pagi hingga siang hari dan siang hingga malam hari. Bahkan pada beberapa kasus atau kegiatan, makanan selingan disajikan setelah makan malam. Contohnya ketika rapat, berkumpul bersama, menonton pertunjukan dan lain sebagainya.

Makanan selingan ini biasanya terdiri dari bahan-bahan alami, seperti ketela rebus, singkong rebus, jagung bakar dan pisang goreng.

  1. Makanan untuk Berbagai Keperluan Acara

Budaya yang terakhir adalah makanan untuk berbagai keperluan acara. Antara satu dengan lainnya dibuat berbeda dan masing-masing memiliki filosofi khusus. Contohnya pada upacara kehamilan, maka makanan yang wajib ada adalah rengginang, teh, nogosari dan emping.

Tak ketinggalan juga ada bubur, jenang dan nasi tumpeng. Berbeda lagi ketika melaksanakan upacara kelahiran, maka yang disajikan adalah jajan pasar, peyek kacang, telor rebus, nasi urapan dan lain sebagainya.

Budaya makan Suku Jawa memang sangat beragam. Antara satu daerah dengan lainnya memiliki ikon tersendiri. Jadi jika kamu berkunjung ke salah satu daerah yang banyak dihuni oleh Suku Jawa, maka tidak ada salahnya menanyakan apa makanan khasnya.

Share Button